Bagus juga mengingatkan bahwa kerusakan mangrove dapat mempercepat abrasi pesisir dan berisiko menggeser batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.
Mangrove Bukan Sekadar Soal Ekonomi
Pendiri ABI, Hendrik, menuturkan bahwa Hari Mangrove Sedunia disahkan UNESCO karena nilai ekologis dan spiritual mangrove yang melampaui sekadar urusan ekonomi.
“Mangrove adalah tempat seseorang bisa memperdalam kejernihan pikiran dan perasaan. Kami tidak hanya menanam, tapi juga mengorganisasi masyarakat menjaga klaster mangrove terbesar di Batam,” ujarnya.
ABI mencatat sedikitnya 30 laporan kasus kehutanan telah disampaikan, termasuk desakan untuk revisi regulasi Hutan Produksi Terbatas (HPT) yang sering menjadi celah eksploitasi.
Diskusi ditutup dengan seruan bersama dari ABI: “Cintai, Peduli, Beraksi!” yang dijawab lantang oleh peserta diskusi, mulai dari mahasiswa, aktivis, jurnalis, hingga perwakilan nelayan.







