Penyengat pernah menjadi pusat pemerintahan dan kehidupan intelektual Kesultanan Riau-Lingga. Tradisi keilmuan, kesusastraan dan pemikiran Melayu tumbuh di pulau tersebut dan meninggalkan jejak yang masih dapat ditelusuri hingga kini.
Salah satu warisan paling dikenal adalah Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji, yang tidak hanya menjadi karya penting dalam kesusastraan Melayu, tetapi juga berkaitan erat dengan sejarah perkembangan bahasa dan pemikiran Melayu di Nusantara.
Karena itu, Saibansah menggagas kunjungan khusus wartawan PWI Kepri ke Pulau Penyengat.
Para wartawan nantinya tidak hanya datang untuk menikmati destinasi wisata, tetapi menggali berbagai cerita yang tersimpan di balik pulau tersebut, mulai dari sejarah, tokoh, bahasa, sastra, tradisi hingga kehidupan masyarakat.
Para jurnalis juga didorong menulis Penyengat dalam bentuk feature dengan sudut pandang dan gaya masing-masing.
Tulisan tersebut selanjutnya dapat dihimpun menjadi sebuah buku yang merekam Pulau Penyengat dari perspektif para jurnalis.
“Mahkota seorang jurnalis adalah buku,” tegas Saibansah.
Penyengat dan Jejak Bahasa Melayu
Gagasan tersebut mendapat sambutan dari Dewan Pakar PWI Kepri Ramon Damora yang selama ini memiliki perhatian terhadap seni, budaya dan sejarah Melayu.














