Masyarakat tempatan, masyarakat Kepri, pelajar, seniman, fotografer, jurnalis dan berbagai profesi lainnya dapat mengambil bagian.
Kontribusi tidak harus selalu berbentuk tulisan jurnalistik. Cerita masyarakat, karya sastra, foto, catatan sejarah, karya seni hingga dokumentasi lainnya dapat dihimpun menjadi arsip digital yang merekam wajah Kepri menjelang satu abad Sumpah Pemuda.
“Misalnya ada 100 tulisan dari masyarakat tempatan, masyarakat Kepri dan lainnya, ada dari seniman dan dari profesi lainnya. Nanti dikumpulkan dalam satu file besar secara digital,” kata Ramon.
Menurut dia, gerakan tersebut dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan kembali kekayaan sejarah, bahasa dan kebudayaan Melayu Kepri kepada generasi muda.
Pulau Penyengat, dengan jejak sejarah dan tradisi intelektualnya, dapat menjadi salah satu sumber cerita utama dalam gerakan tersebut.
“100 tahun Sumpah Pemuda seharusnya tidak hanya diperingati secara seremonial, tetapi juga meninggalkan warisan pengetahuan yang dapat dibaca dan diakses oleh generasi setelahnya,” ujarnya.
Gagasan tersebut mendapat respons positif dari Gubernur Ansar Ahmad.
Ansar menyatakan Pemerintah Provinsi Kepri siap memfasilitasi kunjungan wartawan PWI Kepri ke Pulau Penyengat untuk menggali lebih jauh potensi sejarah, budaya dan pariwisata yang dimiliki pulau tersebut.














