Menurut Ansar, Penyengat kini tidak hanya memiliki berbagai situs sejarah dan budaya, tetapi juga fasilitas penginapan yang memungkinkan wisatawan maupun rombongan tinggal lebih lama.
“Sekarang di Pulau Penyengat sudah ada beberapa homestay, bisa bermalam di sana. Berangkat siang dari Batam, bisa kumpul malam di sana. Pagi kita sarapan bersama dan siangnya bisa pulang,” kata Ansar.
Ansar kemudian melontarkan candaan yang kembali mencairkan suasana.
“Asal jangan malam Jumat, saya ada acara rutin yasinan,” ujarnya, disambut tawa para pengurus PWI Kepri.
Pertemuan itu akhirnya tidak berhenti pada sebuah agenda silaturahmi.
Dari Graha PWI Kepri, muncul gagasan untuk menjadikan jurnalistik sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan generasi masa kini.
Pulau Penyengat dapat dibaca bukan sekadar sebagai gugusan kecil di perairan Tanjungpinang, melainkan sebagai ruang tempat sejarah Melayu, bahasa, sastra, tradisi dan kehidupan masyarakat bertemu.
Dari sebuah pulau kecil, tersimpan cerita besar tentang Melayu.
Dan melalui tulisan para jurnalis, cerita itu dapat kembali dihidupkan, didokumentasikan dan diperkenalkan kepada generasi yang akan datang. *














