Sementara itu, di sisi lain kota, seorang rekan kerja menerima pesan singkat—pesan terakhir dari Farhan. Ia meminta tolong untuk diambilkan motornya yang ditinggal di Jembatan Barelang. Ada firasat buruk yang menggelayut.
“Saya ditelpon teman, dia bilang Farhan minta jemput motornya di jembatan. Rasanya gak enak. Waktu ditelepon, HP-nya sudah tidak aktif,” kata rekan wanitanya dengan suara parau. Mereka bergegas ke lokasi, tapi segalanya sudah terlambat.
Hari Raya yang seharusnya penuh kebahagiaan menjadi hari berkabung. Di bawah jembatan, beberapa perempuan—kerabat atau rekan kerja Farhan—menangis histeris. Sebuah pemandangan kontras: takbir dan tangis, kurban dan kehilangan.
Kepolisian membenarkan peristiwa itu. “Korban ditemukan dalam kondisi sudah meninggal. Masih kami dalami motifnya,” kata Kapolsek Sagulung, Iptu Rohandi Tambunan. Jasad Farhan dievakuasi ke RS Bhayangkara Polda Kepri untuk autopsi.
Hingga kini, belum diketahui apa yang benar-benar mendorong Farhan mengambil jalan sunyi itu. Tidak ditemukan surat wasiat. Tidak ada jejak pesan putus asa yang tertinggal di media sosial. Yang tersisa hanyalah pertanyaan, dan luka yang tak kasat mata.
Jembatan Barelang bukan kali pertama menjadi saksi bisu aksi serupa. Dalam beberapa tahun terakhir, jembatan yang indah itu perlahan menyimpan sejarah kelam sebagai tempat orang-orang yang kelelahan, diam-diam menyerah.













