PAGI ITU, langit Barelang diguyur gerimis. Embun belum mengering, dan suara takbir masih bersahutan dari kejauhan. Di tengah gegap gempita Hari Raya Idul Adha, seorang pria muda berdiri sendirian di Jembatan I Barelang, tubuhnya berbalut jas hujan, tangan memegang termos minum, dan wajah yang seolah menyimpan ribuan beban yang tak terlihat.
Pria itu adalah Muhammad Farhan, 25 tahun, karyawan PT Epson asal Pringsewu, Lampung, yang tinggal di Bukit Ayu Lestari, Batam. Tidak banyak yang tahu, pagi itu adalah kali terakhir dunia menyaksikan kehadirannya.
Menurut kesaksian warga, Farhan sempat terlihat menyandar di pagar jembatan. “Dia diam, minum dari termos, lalu perlahan menyayat tangannya sendiri sambil berjalan pelan. Setelah itu, dia loncat,” ujar seorang saksi dengan nada tercekat.
Seketika, suasana berubah. Teriakan warga memecah pagi. Hujan tak lagi terasa; yang tersisa hanyalah keheningan dan gemetar. Farhan, masih mengenakan jaket hitam, baju biru muda, dan sepatu hitam, menghilang di bawah jembatan.
Tak butuh waktu lama, jasadnya ditemukan. Tengkurap, tangan mengepal, seolah masih menggenggam sesuatu yang belum sempat ia sampaikan. Di atas jembatan, tempat ia melompat, ada sepedamotor, jas hujan dan kartu identitas perusahaan tempat ia bekerja.













