Namun, Rayyan dan Okta harus merelakan masa depan mereka terhenti di tepian pasir yang mereka cintai.
Pencarian yang dilakukan Kantor SAR Natuna berlangsung mencekam. Selama satu jam, doa-doa dipanjatkan di garis pantai oleh warga yang menyaksikan tim penyelamat menyisir perairan.
Harapan itu pupus saat jasad Okta ditemukan pada pukul 14.41 WIB, menyusul kepergian Rayyan.
Kini, selain duka yang mendalam, tragedi ini menyisakan desakan penting bagi keamanan publik. AKP Nellay Boy menyoroti kontur Pantai Piwang yang memiliki ceruk dengan arus tarikan ke tengah yang sangat berbahaya. Selama ini, lokasi tersebut lebih difungsikan sebagai taman wisata, bukan tempat berenang yang aman.
“Kami berharap Pemda segera membuat plang peringatan atau larangan berenang di Pantai Piwang. Fokus pemantauan harus ditingkatkan agar tidak ada lagi nyawa yang hilang di ceruk tersebut,” tambah Kapolsek.
Ketika bel sekolah berbunyi di SD 004 Sual, tidak akan ada lagi suara tawa dari Rayyan dan Okta. Yang tersisa hanyalah kenangan manis tentang dua sahabat yang pulang lebih awal ke pangkuan Sang Pencipta, serta sebuah peringatan keras bagi kita yang ditinggalkan bahwa keselamatan anak-anak adalah harta yang paling berharga.













