Gudangberita.co.id, Batam – Teriakan kemanusiaan bergema dari jantung Kota Batam. Peristiwa penyiksaan terhadap Intan (20), perempuan muda asal Indonesia Timur yang bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART), membuka tabir kekejaman yang selama ini tersembunyi di balik tembok rumah megah kawasan elite Sukajadi, Batam.
Tak hanya mengalami kekerasan fisik dan psikis, Intan juga dipaksa meminum air septiktank dan makan kotoran anjing oleh majikannya. Kondisi mengenaskan itu membuat masyarakat terguncang, dan memicu gelombang kemarahan tokoh-tokoh adat serta komunitas lintas etnis di Batam.
Salah satu suara paling lantang datang dari Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Kota Batam, Yang Mulia Dato’ Wira Setia Utama Raja Muhammad Amin, yang mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai penghinaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan adat Melayu.
“Tak seorang pun boleh menyiksa saudaranya di Bumi Melayu ini. Rasulullah memuliakan Bilal bin Rabah, seorang budak yang sendalnya saja terdengar di surga. Lalu bagaimana kita bisa membiarkan perlakuan biadab seperti ini?” tegasnya.
Dato’ Raja Amin mendesak aparat penegak hukum bertindak cepat dan menghukum pelaku dengan seberat-beratnya. Ia menilai kekerasan terhadap perempuan perantau seperti Intan adalah luka kolektif bagi Batam, kota yang dikenal multikultural dan terbuka.







