Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Natuna, Abdul Rahman, membenarkan penemuan tersebut dan menyampaikan bahwa keduanya dalam kondisi selamat dan telah kembali ke Desa Munjan.
“Alhamdulillah, mereka ditemukan berkat kolaborasi seluruh unsur SAR dan dukungan masyarakat nelayan,” kata Abdul Rahman.
Kapal Rusak, Tak Ada Komunikasi, Hanya Perbekalan Seadanya
Saat ditemukan, kapal dalam kondisi mati mesin dan tidak memiliki perangkat komunikasi atau navigasi. Hanya tersisa perbekalan seadanya untuk bertahan hidup.
Pihak SAR menegaskan kembali pentingnya radio komunikasi, HP satelit, dan pelaporan aktivitas pelayaran, bahkan untuk perjalanan pendek sekalipun. Koordinasi dan keterbukaan informasi ke pihak desa maupun instansi juga menjadi faktor penting dalam penanganan cepat jika terjadi hal-hal darurat di laut.
Keberhasilan pencarian ini tak lepas dari keterlibatan TNI-Polri, BPBD Anambas, Pos SAR Anambas, HNSI, dan masyarakat nelayan, serta penyebaran informasi melalui media dan radio pelayaran.
“Solidaritas masyarakat laut adalah kekuatan kita. Terima kasih kepada semua yang ikut berjuang,” tambah Rahman.
Kini, Asrikandi dan Handeri telah pulang dan mendapat perawatan ringan. Namun kisah mereka menjadi pengingat bahwa keselamatan pelayaran bukan perkara sepele, dan komunikasi adalah nyawa kedua di laut lepas.












