Bagi orang Melayu, tanjak bukan sekadar aksesori. Ia adalah simbol keluhuran, penanda martabat, pengingat bahwa pemimpin sejati harus mengedepankan akal sehat, bukan syahwat kuasa. Dan di tengah kekacauan yang melanda PWI, gestur ini berbicara lebih nyaring daripada orasi: rawatlah martabat organisasi, selamatkan akal sehatnya, dan jangan biarkan PWI jatuh jadi panggung kekuasaan semata.
Khavi mengirimkan pesan bahwa PWI Batam bukan penonton pasif dari drama pusat. Mereka adalah penjaga marwah yang siap menopang kubu sah, mendukung dengan elegan, tapi juga mengingatkan dengan tajam.
Di era media cetak, elektronik, dan digital saling beradu cepat, media lokal seperti PWI Kepri tak bisa hanya menjadi penonton. Mereka harus berperan aktif menjaga integritas, menyuarakan kebenaran, dan berani menguji klaim kekuasaan. Di sini, Diplomasi Tanjak menemukan makna lebih dalam: media bukan sekadar perpanjangan tangan penguasa, melainkan mitra kritis yang mengingatkan.
Tanpa keberanian menjaga jarak dari kekuasaan, media hanya jadi pemandu sorak. Dan tanpa integritas, organisasi wartawan hanya jadi wadah kosong yang mudah dijual-beli.
Di balik lipatan tanjak, Khavi memahat pesan penting: PWI yang bermarwah adalah PWI yang berpikir jernih, berdiri tegak, dan berani menolak tunduk pada godaan kekuasaan. Lewat Diplomasi Tanjak, ia menegaskan bahwa Batam dan Kepri tidak sekadar ingin PWI bertahan hidup, mereka ingin PWI hidup dengan martabat.













