Gudangberita.co.id, Batam – Merayakan satu tahun kepemimpinan sejak dilantik 20 Februari 2025, pasangan Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra memaparkan deretan angka fantastis. Pertumbuhan ekonomi Batam yang menyentuh 6,89% serta realisasi investasi yang menembus Rp69,3 triliun (115,5% dari target) menjadi “panggung utama” keberhasilan mereka.Â
Namun, di balik gemerlap angka makro tersebut, publik masih memberikan catatan kritis yang tajam: Batam belum merdeka dari krisis air, sampah, dan banjir.
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, dalam dialog interaktif satu tahun kepemimpinannya, Jumat (20/2/2026), dengan bangga menyebutkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Batam kini mencapai 83,80. Angka ini mencerminkan kemajuan di sektor kesehatan dan pendidikan, termasuk keberhasilan program pengobatan gratis cukup dengan KTP Batam.
Namun, tingginya angka IPM ini terasa kontras dengan kenyataan di lapangan. Distribusi air bersih masih menjadi “duri dalam daging” yang belum tercabut. Meski Amsakar mengeklaim telah menangani 18 titik krisis air, ribuan warga di wilayah pemukiman tertentu masih mengeluhkan pasokan air yang mati atau mengalir kecil.
Bagi warga, angka pertumbuhan ekonomi yang melampaui nasional tidak banyak berarti jika kebutuhan dasar paling primer—air bersih—masih sering “ngadat”.













