Hubungan Wakil Walikota Batam Amsakar Ahmad dan Walikota Muhammad Rudi bagaikan ‘retak menuju belah”. Pertanda ke arah itu semakin jelas ketika Amsakar mencurahkan isi hatinya dalam sebuah talkshow podcast media online setempat.
Amsakar yang dikenal kerap melontarkan pantun “Burung Kenek-kenek” ini mengaku kegiatan dinasnya sangat terbatas. Tidak seperti dulu, dia banyak mendapat disposisi mewakili Walikota pada berbagai undangan kegiatan. Saat ini hampir tak pernah lagi. Bahkan kini, dia jarang mendapatkan fasilitas protokoler pada sejumlah kegiatannya.
Tidak berselang lama, curhat “Si Burung Kenek-kenek” ini mendapat tanggapan menohok dari Walikota Rudi. Dia menuding Amsakar jarang masuk kantor. Bahkan Rudi meminta Amsakar menemuinya jika ingin mendapatkan pekerjaan.
Pertentangan sikap antara Amsakar dan Rudi ini pun membuat publik makin yakin bahwa kepemimpinan di Pemko Batam, khususnya Partai Nasdem mengalami “pecah dalam”. Betapa tidak, Rudi adalah Ketua DPW Partai Nasdem Provinsi Kepri, sedangkan Amsakar menjabat Ketua DPD Partai Nasdem Kota Batam.
Penyebab utama ” pecah kongsi” ini pun gampang ditebak. Yakni, keinginan Rudi untuk mencalonkan istrinya yang juga Wakil Gubernur Kepri Marlin Agustina menjadi Walikota Batam. Padahal ditenggarai ada kesepakatan politik antara keduanya bahwa Amsakar akan melanjutkan kepemimpinan Walikota Batam setelah dua periode dijabat Rudi.
Tapi, itulah politik. Janji adalah bagian dari strategi. Yang prinsip adalah kepentingan dan kemumpungan. Mumpung punya peluang, mumpung punya dukungan, mumpung lagi di atas. Kalau sudah aji mumpung, tentu janji dan pertemanan “bisa-bisa” saja diabaikan.













