Gudangberita.co.id, Batam – Malam takbiran bukan sekadar perayaan pergantian kalender Hijriah, melainkan puncak dari perjalanan spiritual selama sebulan penuh. Namun, di Batam, kemunculan kendaraan hias “Naga Hitam” yang mengeluarkan asap dalam pawai baru-baru ini memicu diskusi hangat di tengah masyarakat. Sejauh mana batas kreativitas boleh bersinggungan dengan ritual keagamaan?
Kita harus mengapresiasi semangat anak muda yang ingin memberikan tontonan berkualitas. Secara teknis, kendaraan hias tersebut menunjukkan penguasaan seni dan teknologi yang mumpuni. Di satu sisi, daya tarik visual yang tinggi mampu menarik minat massa untuk turun ke jalan dan meramaikan suasana kemenangan, yang secara tidak langsung bisa dianggap sebagai bentuk “syiar” dalam kemasan modern yang populer.
Namun, kritik yang muncul juga tidak bisa diabaikan. Ketika simbol mitologi seperti naga hitam yang terkesan “garang” dan berasap tampil dominan, ada risiko pergeseran makna. Pawai yang seharusnya menjadi medium untuk mengagungkan Takbir, bisa berubah menjadi sekadar karnaval estetika.
Masyarakat yang pro-kontra sebenarnya sedang menyuarakan kekhawatiran yang sama: jangan sampai nilai-nilai sakral terdistraksi oleh tontonan yang kurang relevan dengan narasi Idulfitri.








