Gudangberita.co.id, Batam – Angka-angka statistik yang dipaparkan Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, dalam refleksi satu tahun kepemimpinannya bersama Li Claudia Chandra memang tampak menyilaukan.
Pertumbuhan ekonomi diklaim meroket hingga 6,89 persen, sementara realisasi investasi “melangit” di angka Rp69,3 triliun. Namun bagi warga yang setiap hari masih harus berhadapan dengan bau menyengat dari tumpukan sampah yang telat diangkut, angka-angka triliunan itu terasa sangat jauh dari bumi.
Dalam dialog Batam Menyapa di RRI Batam, Senin (23/2/2026), Amsakar tak menampik adanya ketimpangan antara gemerlapnya investasi dengan urusan “perut” kota, yakni pengelolaan sampah. Di tengah ambisinya menjaga citra Batam sebagai kota pariwisata yang dikunjungi 1,6 juta wisman sepanjang 2025, urusan sampah nyatanya masih menjadi titik lemah yang membumi.
Publik patut bertanya: Bagaimana mungkin kota yang membukukan investasi hingga 115,5 persen dari target masih berkutat dengan persoalan manajemen limbah domestik?
Amsakar mengakui bahwa bersama dengan air bersih dan banjir, sampah adalah satu dari tiga dosa warisan yang hingga kini belum mampu ditaklukkan sepenuhnya oleh duet Amsakar-Li Claudia.
“Kami bertekad persoalan utama khususnya air bersih, banjir, dan sampah dapat segera dituntaskan melalui kerja kolektif,” ujar Amsakar dengan nada diplomatis. Namun bagi warga, “kerja kolektif” seringkali terdengar seperti pengalihan tanggung jawab birokrasi ke pundak masyarakat yang diminta terus bersabar.













