BP3N menilai Teluk Buton unggul dalam beberapa aspek teknis yang krusial bagi penerbangan:
- Lahan luas dan landai, mempermudah pembangunan runway standar komersial.
- Minim obstacle alam, sehingga manuver pesawat lebih aman dan fleksibel.
- Arah angin dan kontur wilayah dinilai mendukung aktivitas take off dan landing.
Pada masa itu, kendala utama hanyalah infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, telekomunikasi, dan air yang belum memadai.
Namun kondisi Natuna kini sudah jauh berbeda, dengan pembangunan infrastruktur yang terus dipacu sejak era 1990-an hingga 2025.
Bandingkan dengan Lokasi Lain: Cemaga, Penarik, dan Ranai
Selain Teluk Buton, ada beberapa lokasi lain yang pernah disebut sebagai opsi bandara:
- Cemaga memiliki kontur datar, namun lebih cocok untuk bandara pendukung sektor perkebunan.
- Penarik, dinilai tepat untuk bandara khusus layanan Pertamina.
Lanud Raden Sadjad memiliki obstacle Gunung Ranai setinggi 1.000 mdpl, yang membatasi fleksibilitas penerbangan pesawat besar.
Dari seluruh pilihan tersebut, Teluk Buton tetap menjadi satu-satunya lokasi yang diakui memiliki potensi bandara sipil skala nasional yang benar-benar mandiri.
Dorongan masyarakat agar bandara sipil dibangun semakin kuat. Warga berharap Bupati Cen Sui Lan memperjuangkan agar proyek ini masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) berikutnya.
Cen sendiri menegaskan bahwa pembangunan bandara sipil bukan sekadar proyek transportasi, tetapi bagian dari visi besar Natuna sebagai wilayah perbatasan yang harus mandiri secara ekonomi.
“Bandara sipil ini bukan hanya soal transportasi, tetapi soal kemandirian daerah perbatasan dan harga diri bangsa,” tegas Cen Sui Lan.













