Suara telepon seluler pada Senin siang (24/8/2026) itu menjadi kabar terakhir dari Hutan Gunung Bedung, Natuna. Wardi (39), Supriadi (44), Arudin (40), dan Irfan (40) menghubungi keluarga dengan nada riang, buah kembang semangkok yang mereka cari sudah ditemukan.
Rencana awal untuk segera pulang usai kabar bahagia itu mendadak sirna. Ketika malam berganti pagi dan hari melintasi tenggat, keempatnya tak kunjung kembali.
Kisah berawal sejak subuh, sekitar pukul 04.00 WIB. Dengan bekal seadanya, empat pencari hasil hutan ini menembus rimbunnya belantara di sebelah Sujung, kawasan galian Pengadah.
Namun, belantara Gunung Bedung menyimpan medannya sendiri. Alur berbukit yang terjal dan vegetasi lebat yang perlahan menyesatkan arah langkah mereka.

Kepanikan keluarga yang menanti hingga hari Rabu (26/8/2026) akhirnya bermuara pada laporan resmi dari Lurah Ranai Darat, A. Era Juein Marisa, ke Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Natuna pukul 14.30 WIB. Respon cepat langsung bergulir.
Operasi SAR digelar melintasi medan sejauh 36,3 kilometer dari markas utama, melibatkan sinergi antara Tim SAR Natuna, Polres Natuna, KUPS Geosite Gunung Ranai, hingga masyarakat lokal Desa Selemam.
Selama lebih dari empat hari di dalam hutan dengan perbekalan yang kian menipis, keempat warga tersebut bertahan hidup di tengah kerasnya alam.
Titik terang berhembus pada Jumat pagi (28/8/2026). Setelah menyusuri jalur terjal menggunakan motor rescue trail dan menembus hutan selama hampir 5 jam perjalanan dari Desa Selemam, tim gabungan akhirnya menemukan keempatnya pada pukul 10.15 WIB di koordinat 3°59’20” U 108°13’5″ BT.













