Gudangberita.co.id, Batam — Sebagai salah satu pusat industri terbesar dan kawasan strategis yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) selalu menjadi magnet investasi.Â
Namun, data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026 justru menyajikan paradoks yang mengejutkan.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kepri mencatatkan angka 6,87 persen.
Angka ini menempatkan Kepri sebagai daerah dengan tingkat pengangguran tertinggi kedua di Indonesia, hanya berada tipis di bawah Papua yang mencatatkan TPT 7,02 persen.
Fenomena ini memicu pertanyaan besar: Mengapa investasi yang melimpah dan pertumbuhan ekonomi di Kepri belum mampu menyerap angkatan kerja secara optimal? Ada apa dengan pasar kerja Kepri?
Membedah Paradoks: Investasi Masuk, Tenaga Kerja Terasing
Posisi geografis Kepri yang istimewa terbukti sukses menarik berbagai industri manufaktur, galangan kapal, pariwisata, hingga ekonomi digital. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya jurang pemisah (gap) yang lebar antara pertumbuhan modal dan penyerapan tenaga kerja lokal.
Pengangguran bukan sekadar deretan angka statistik. Di balik angka 6,87 persen tersebut, ada ribuan lulusan sekolah dan perguruan tinggi yang menganggur, serta keluarga yang menggantungkan harapan pada lapangan kerja.







