Ketua Pengurus Wilayah Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kepulauan Riau, Harken, menilai bahwa tingginya angka pengangguran di tengah masifnya investasi mengindikasikan adanya pergeseran radikal di pasar kerja yang gagal diantisipasi dengan cepat.
“Data ini harus menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pembangunan tidak cukup hanya berfokus pada infrastruktur dan investasi. Tidak kalah penting adalah memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan,” ujar Harken.
Akar Masalah: “Gagap” Teknologi dan Kesenjangan Kompetensi
Mengapa pasar kerja Kepri tidak sinkron dengan laju investasi? Berdasarkan analisis situasi saat ini, ada dua faktor utama:
Transformasi Industri dan Digitalisasi: Kebutuhan pasar kerja saat ini sudah jauh berbeda dibanding satu dekade lalu. Otomatisasi dan digitalisasi membuat industri membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian spesifik tinggi (high-skilled labor).
Kurikulum Pendidikan Belum Adaptif: Lulusan lokal seringkali belum dibekali dengan kompetensi modern yang dicari oleh perusahaan-perusahaan multinasional di Kepri.
Harken menjelaskan bahwa kunci untuk membenahi pasar kerja ini adalah mengubah cara pandang terhadap literasi. Di era modern, literasi tidak lagi diartikan sebatas bebas buta aksara atau kemampuan membaca dan menulis.







