“Literasi hari ini adalah kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, memanfaatkan teknologi, dan mengambil keputusan yang tepat,” jelas Harken.
Tanpa adanya budaya belajar sepanjang hayat (lifelong learning) untuk meningkatkan keterampilan (upskilling), tenaga kerja lokal akan terus kalah bersaing dan terpinggirkan di tanah sendiri.
Solusi Berbasis Komunitas: TBM Sebagai Jembatan Keterampilan
Mengharapkan perubahan kurikulum formal membutuhkan waktu yang lama, sementara angka pengangguran harus segera ditekan. Oleh karena itu, gerakan berbasis komunitas dinilai bisa menjadi solusi taktis jangka pendek dan menengah.
Harken menegaskan bahwa keberadaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan komunitas literasi dapat mengambil peran sebagai inkubator keterampilan warga. Melalui TBM, masyarakat bisa mendapatkan akses gratis terhadap:
1. Literasi Digital: Keterampilan dasar komputer, internet sehat, dan pemanfaatan perangkat lunak industri.
2. Pelatihan Kewirausahaan: Membuka wawasan UMKM agar pencari kerja bisa beralih menjadi pencipta lapangan kerja.
3. Keterampilan Praktis (Soft Skills): Berpikir kritis dan kemampuan adaptasi dunia kerja.
“Masyarakat yang gemar belajar akan lebih siap menghadapi perubahan. Dari literasi lahir keterampilan, dari keterampilan lahir produktivitas, dan dari produktivitas akan terbuka lebih banyak peluang ekonomi,” tambahnya.







