Tak ada yang aneh dengan pagi di Take Five, Sei Panas, Batam. Cangkir-cangkir kopi mengepul, sendok berdenting pelan, dan Slamet, seperti manusia waras pada umumnya datang dengan satu niat suci, ngopi. Bukan tafakur, bukan pula merenungi hidup. Hanya ngopi, titik.
Tapi hidup kadang punya selera humor sendiri.
Di sela seruputan kopi pertama, terdengar suara meraung. Bukan knalpot racing, bukan pula sirene patroli. Ambulans. Lalu satu lagi. Dan lagi. Lengkap dengan iring-iringan orang membawa bendera putih yang berkibar lirih.
Ternyata, tepat di seberang kedai kopi ini berdiri tenang TPU Taman Langgeng Baloi Kolam. Bahkan u-turn menuju pemakaman persis di depan Take Five. Dunia dan akhirat, rupanya, hanya dipisahkan marka jalan.
Ironi pun mulai bekerja. Di meja, terhidang sop ikan yang wanginya bisa membangunkan orang mati “maaf” dan nasi ayam Hainan yang tampak begitu ikhlas untuk dihabiskan.
Di jalan, rombongan pengantar jenazah melintas pelan, seolah berkata, “Silakan lanjut makan, kami cuma lewat.” Slamet menelan ludah. Bukan karena pedas, tapi karena tersadar, hidup ini cepat, kadang lebih cepat dari kopi yang dingin.
Setiap sendok nasi goreng yang masuk terasa seperti pengingat. Setiap tegukan kopi seperti bisikan halus, bahwa nikmat dunia memang menggoda, tapi tak selamanya. Di Take Five, kenikmatan dan kesementaraan duduk satu meja, tanpa perlu reservasi.
Namun jangan salah, kedai ini bukan tempat muram. Justru sebaliknya. Ia mengajarkan pelajaran mahal dengan cara santai.







