Malam Selasa (20/1/2026) seharusnya berjalan biasa bagi Sugianto (44). Seorang ayah, pekerja kreatif digital, warga Kavling Punggur, Kecamatan Nongsa, yang baru saja menjemput anaknya pulang. Tak ada firasat apa pun. Hanya lelah setelah seharian bekerja, dan keinginan sederhana, sampai rumah dengan selamat.
Sekitar pukul 20.00 WIB, motor yang dikendarainya melintas di Bundaran Punggur. Jalan tampak kering. Arus kendaraan tidak ramai. Tapi di situlah nasib hampir berubah arah.
“Tiba-tiba terpeleset. Saya tidak sadar ada tumpahan oli di jalan, tidak banyak, tapi cukup membuat motor kehilangan kendali,” tutur Sugianto, mengenang detik-detik yang nyaris berujung petaka.
Dalam sekejap, motor oleng. Anak yang diboncengnya refleks ia lindungi. Untungnya, mereka tidak jatuh ke tengah arus kendaraan. Malam itu seolah memberi jeda—lalu lintas tidak padat, dan pertolongan datang cepat.
Beberapa orang yang berada di sekitar lokasi langsung menghampiri. Seorang bapak-bapak, seorang pengemudi ojek online, dan secara kebetulan tetangga Sugianto yang melintas, ikut membantu menenangkan situasi.
“Alhamdulillah, banyak yang langsung nolong. Saya, anak, dan motor bisa segera diamankan ke pinggir jalan,” katanya.
Tak ada luka serius. Tak ada kendaraan lain yang terlibat. Tapi peristiwa singkat itu meninggalkan pelajaran panjang—bahwa bahaya di jalan tidak selalu datang dari kecepatan atau hujan deras, kadang hanya dari tumpahan oli kecil yang nyaris tak terlihat di malam hari.
Sugianto mengaku baru menyadari sumber masalah setelah berdiri dan melihat aspal yang licin. Tumpahan oli memang tidak luas, tapi cukup untuk menjebak siapa pun yang lengah.







