SIANG itu, di sebuah ruangan sederhana namun penuh semangat di Sekretariat PWI Batam, puluhan kepala sekolah dari berbagai penjuru Kepulauan Riau: Batam, Tanjungpinang, Bintan, hingga Karimun duduk membentuk lingkaran perhatian.
Mereka datang bukan sekadar untuk mendengar, tetapi membawa cerita yang lama mereka simpan sendiri: tentang intimidasi, tekanan, bahkan pemerasan yang mereka alami dari oknum yang menyebut dirinya wartawan.
“Jika seseorang mengaku wartawan namun tidak memiliki sertifikasi kompetensi dari lembaga uji yang diakui Dewan Pers, maka patut dipertanyakan profesionalismenya dalam menjalankan tugas jurnalistik,” ucap Saibansyah Dardani, Ketua PWI Kepri & Ahli Dewan Pers.
Seruan itu bukan sekadar ungkapan, tapi ledakan kepedihan yang selama ini hanya dibisikkan di ruang kepala sekolah, disimpan dalam tumpukan surat yang tak berani dibalas, dan jadi kecemasan tiap kali tamu tak dikenal datang dengan embel-embel “media”.
Dibalik Amplop dan Ancaman
Selama ini, banyak kepala sekolah di Kepri mengaku terpaksa bersikap diam saat didatangi oknum wartawan yang mencari-cari kesalahan administrasi sekolah. Beberapa bahkan diminta “uang koordinasi” agar berita miring tak tayang.













