Vance juga mengklaim pihaknya telah bersikap fleksibel sesuai instruksi Presiden Donald Trump, namun menuding Iran tidak menyambut itikad baik tersebut dengan persyaratan yang masuk akal bagi keamanan global.
Di sisi lain, Iran memberikan pembelaan tajam. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa keberhasilan negosiasi justru terhambat oleh “tuntutan berlebihan dan permintaan melanggar hukum” dari pihak Washington.
Kantor berita Iran, Fars, melaporkan bahwa Teheran menolak keras syarat-syarat ambisius Amerika terkait kontrol Selat Hormuz dan program energi nuklir damai. Sumber internal delegasi Iran bahkan menyebut AS sengaja mencari alasan untuk meninggalkan meja perundingan demi memperbaiki citra internasional.
“Amerika membutuhkan perundingan untuk memperbaiki citra mereka yang hilang, namun tidak bersedia menurunkan ekspektasi meskipun mengalami kebuntuan dalam perang,” ujar sumber tersebut.
Gagalnya kesepakatan ini menjadi sinyal gelap bagi ribuan nyawa yang terjebak dalam konflik. Perang yang pecah menyusul gugurnya Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari lalu telah mencatatkan angka kematian yang memilukan:
Pihak Iran: 2.076 orang tewas dan 26.500 terluka.








