“Kalau misalnya kita melihat pembangkit surya di Indonesia, potensi surya itu masif. Dia adalah sumber energi yang paling besar di Indonesia,” kata Beyrra dalam diskusi.
Beyrra mengatakan pengembangan energi surya juga perlu memperhatikan kebutuhan lahan. Pembangunan pembangkit skala besar membutuhkan ruang yang tidak sedikit sehingga lokasi, penggunaan lahan, serta dampaknya terhadap masyarakat perlu diperhitungkan sejak awal.
Menurut dia, pengembangan energi surya tidak harus selalu dilakukan melalui pembangkit berskala besar. Potensi lain dapat berasal dari panel surya atap maupun pemanfaatan lahan tertentu, dengan tetap mempertimbangkan tanggung jawab lingkungan dan kondisi lahan.
“Ini juga harus melihat bagaimana kita bisa memasang rooftop solar,” ujarnya.
Sementara itu, Sylvi Sabrina menyoroti sisi ekonomi daerah dan pekerja yang berpotensi terdampak oleh perubahan struktur ekonomi akibat transisi energi.
Menurut Sylvi, sejumlah daerah seperti Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan masih memiliki ketergantungan terhadap industri berbasis energi fosil. Karena itu, ketika industri tersebut mengalami penurunan atau penghentian aktivitas, pemerintah daerah perlu menyiapkan sumber ekonomi alternatif agar masyarakat tidak kehilangan mata pencaharian.








