“Waktu itu memang saya tidak izinkan menembak kapalnya, sebetulnya aturannya kalau sudah tahap-tahap terakhir boleh menembak. Tetapi karena ini bawa bahan bakar, kalau ditembak wah dampaknya luar biasa bisa meledak kapal ini. Sehingga tetap kami bayang-bayangi kami ikuti terus. Tetapi karena kapal ini nakal, kapal ini akhirnya terus berjalan sampai masuk sampai ke ZEE Malaysia,” ungkap Laksdya Aan.
Kepala Bakamla pun langsung menghubungi Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) untuk meminta izin melakukan pengejaran seketika (hot pursuit), sekaligus berkoordinasi dan meminta izin dengan otoritas Negeri Jiran.
“Nah akhirnya saya kontak dengan komandan APMM Malaysia dibantulah pasukan khusus dari APMM. Pasukan khusus dari coast guardnya Malaysia. Dia menerbangkan helinya. Jadi mulai saya kontak kurang lebih 2-3 jam dia sudah aksi di sini sudah aksi akhirnya dia menurunkan pasukan khususnya ini ke kapal super tanker ini. Akhirnya kapal berhenti,” paparnya.
KN Marore milik Bakamla langsung bergerak mengirim sekoci cepat untuk merapat ke MT Arman 114. Pihak Bakamla berkoordinasi dengan APMM Malaysia di atas geladak kapal yang menjadi target, dan penyerahan kapal ke tim kawal Indonesia untuk dibawa ke Batam.
“Alhamdulillah hari Minggu malam kapal tiba di Batam, dan langsung kita proses,” kata Aan. Dalam proses penghentian itu, satu kapal super tanker lainnya, yang berbendera Kamerun berhasil melarikan diri.
Kepala Bakamla Laksdya Aan menambahkan insiden itu telah dilaporkan secara resmi ke Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD. Bakamla juga telah berkoordinasi Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup, Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, TNI Angkatan Laut, dan Polri.
“Semua kita libatkan di sini kalau memang ada pidana-pidana lain yang ada di kapal ini. Jadi ini sekarang masih berproses di Batam. Tapi dugaan awal kapal ini bisa kita amankan karena melaksanakan damping kemudian melaksanakan transshipment di ZEE kita,” tegasnya.













