“Kalau saya perkirakan bergerak ke Timur Kiabu. Saya rasa pasti banyak nelayan yang jumpa karena perairan itu lokasi yang termasuk ramai dilewati nelayan melaut,” ucapnya.
Bukan hanya Andri, kengerian serupa dirasakan oleh Yuli Hardiansyah. Ia bersama dua rekannya juga sempat berpapasan langsung dengan puing antariksa tersebut di koordinat 206.33.59.
Berbeda dengan Andri, Yuli bahkan tidak sempat mengabadikan momen langka tersebut karena tidak membawa ponsel. Fokusnya saat itu hanya satu: keselamatan.
“Kami melaut mencari ikan. Mau ditarik, kami juga harus bekerja. Jadi kami biarkan saja terombang-ambing,” kata Yuli. Keputusan membiarkan benda itu hanyut membawa kekhawatiran baru, karena ia memperkirakan puing tersebut kini bergerak menuju arah Timur Kiabu.
Kepri: Alun-Alun Sampah Antariksa?
Fenomena ini memperkuat kegelisahan warga pesisir Kepulauan Riau. Sejak cahaya misterius melintas di langit Natuna pada 7 April lalu, laut kini mulai “mengirimkan” sisa-sisanya.
Bagi nelayan kecil seperti Andri dan Yuli, ini bukan sekadar urusan teknologi luar angkasa, melainkan ancaman nyata di ladang mencari makan mereka. “Bahaya kalau mengenai nelayan, apalagi kalau jatuhnya ke daratan,” ungkap Andri khawatir.







