Sejak 1 Januari 2025, kebijakan ini sedikit dilonggarkan, memungkinkan orang dengan visa jangka panjang untuk bekerja di gerai kaki lima. Namun, solusi ini belum cukup membantu mengatasi kelangkaan tenaga kerja.
Eric Chan, pengelola gerai Nasi Lemak Aneka Mee di Ayer Rajah Food Centre, mengaku sudah mencari staf penuh waktu selama empat bulan tanpa hasil. “Banyak yang datang hanya bertahan dua hari dan tidak kembali keesokan harinya,” keluhnya.
Budaya Kaki Lima Terancam Punah
Selain masalah tenaga kerja, budaya pedagang kaki lima di Singapura menghadapi tantangan regenerasi. Banyak pemilik usaha enggan mewariskan bisnis mereka kepada anak-anak. Syed Ibrahim, pedagang generasi ketiga di Adam Road Food Centre, mengaku tidak ingin putranya melanjutkan usahanya.
“Anak saya kuliah di teknik kedirgantaraan NTU. Saya tidak ingin dia bekerja di sini. Kita lihat saja bagaimana setelah saya pensiun,” ujar Syed, yang telah menjalankan usahanya selama lebih dari 30 tahun.
Robot Jadi Solusi
Putus asa dengan kondisi tenaga kerja, Ang Chip Hong memilih membeli robot dari China untuk menggantikan koki manusia di kedainya. Langkah ini mencerminkan tren yang semakin berkembang di Singapura, di mana teknologi menggantikan pekerjaan manual yang tidak lagi diminati masyarakat.













