Raungan mesin jet tempur itu datang tiba-tiba. Awan tampak menyelubungi angkasa ketika dua pesawat F-16 TNI Angkatan Udara membelah langit Batam Center, Selasa, 16 Desember 2025. Suaranya menggelegar, mengguncang udara, membuat orang-orang berhenti berjalan dan menengadah serentak.
Ada yang terkejut, ada yang khawatir, ada pula yang terpukau. Namun di balik gemuruh itu, terselip pesan yang tidak segera terdengar oleh telinga, sebuah getar empati yang tengah dipersiapkan untuk Sumatera.
Batam, kota industri yang tumbuh dari lintasan perdagangan global, pagi itu sedang menata panggung kemanusiaannya. Apa yang terlihat sebagai manuver udara ternyata adalah prolog dari sebuah hajatan, Batam Solidarity Airshow 2025 – Flying for Sumatera, rangkaian kegiatan kedirgantaraan bernuansa kemanusiaan dalam peringatan Hari Jadi Batam ke-196. Selama dua hari, 18 hingga 19 Desember 2025, langit Batam tidak hanya memamerkan kekuatan, tetapi juga memperlihatkan sisi paling humanis dari TNI Angkatan Udara.
Ketika Kekuatan Tidak Lagi Menakutkan

Jet tempur kerap identik dengan perang, konflik, dan ancaman. Namun di Batam, persepsi itu sengaja dibalik. TNI AU melalui Lanud Hang Nadim memilih menjadikan kekuatan udara sebagai bahasa empati. “Kekuatan udara TNI AU tidak hanya ditujukan untuk menjaga kedaulatan negara, tetapi juga hadir saat bangsa membutuhkan uluran tangan kemanusiaan,” ujar Komandan Lanud Hang Nadim Batam, Letkol Pnb Hendro Sukamdani, M.Tr.Opsla.









