“Ibu Li Claudia ingin membangun komunikasi yang lebih dekat dengan media. Silaturahmi ini bukan untuk membatasi ruang kritik, tetapi justru membuka ruang dialog agar pemerintah dan media bisa saling mendengar dan memahami,” ungkap Tuty.
Ia menambahkan, kritik dari pers merupakan masukan berharga bagi evaluasi kebijakan. Namun, ia berharap setiap karya jurnalistik tetap mematuhi kaidah dasar, seperti akurasi, verifikasi, konfirmasi, dan keberimbangan data.
“Kritik yang kuat justru lahir dari proses jurnalistik yang kuat ada verifikasi, konfirmasi, data, dan keberimbangan. Kami tidak membutuhkan media yang hanya memuji pemerintah. Kami membutuhkan media yang kritis dan profesional. Kalau kritiknya berdasarkan data, tentu itu menjadi bahan penting bagi kami untuk berbenah,” tegas Tuty.
Langkah silaturahmi berkelanjutan ini diharapkan dapat mengubah paradigma relasi antara pemerintah dan pers di Batam. Media tidak hanya hadir saat timbul persoalan, dan pemerintah tidak hanya mencari pers ketika membutuhkan publikasi.
Dengan terjalinnya komunikasi dua arah yang sehat antara Pemko Batam, BP Batam, PWI Kepri, dan SMSI Kepri, ekosistem informasi publik di Kepulauan Riau diyakini akan semakin matang. Pada akhirnya, transparansi yang berpadu dengan jurnalisme berkualitas akan memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat luas. (*)














