
“Dibangun taman, tapi sungainya jadi kecil. Kalau dilihat dari lokasi dan desainnya, kayaknya taman itu cuma untuk pemilik apartemen. Sementara kami, warga sekitar, justru khawatir akan banjir,” ungkap Ade.
Sebelumnya, Kepala BP Batam Amsakar Achmad bersama Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra telah meninjau langsung lokasi proyek penataan DAS Baloi pada 8 Maret 2025 lalu. Mereka mengklaim bahwa penataan kawasan ini bertujuan mengurangi risiko banjir dan menambah nilai estetika kota.
“Kita ingin merapikan kawasan ini agar menjadi ruang publik yang nyaman. Nantinya akan menjadi taman kota yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Amsakar di lokasi.
Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, bahkan menyebut kawasan ini akan disulap menjadi tempat wisata yang instagramable. Ia menegaskan bahwa estetika menjadi bagian dari pembangunan Batam yang lebih modern dan ramah publik.
Namun janji tersebut justru memunculkan kekhawatiran baru. Di tengah pernyataan estetika dan keindahan, publik mempertanyakan apakah fungsi dasar sungai sebagai jalur air dan pencegah banjir masih menjadi prioritas.

Kawasan di sekitar Apartemen Permata Residence memang menjadi pusat penataan. Keterlibatan pihak pengembang apartemen dalam rencana penataan menimbulkan spekulasi bahwa proyek ini lebih menguntungkan kawasan elite dibanding masyarakat umum.







