“Saat ini sagu butir masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan lokal. Ke depan akan dikembangkan dengan sistem pengemasan yang lebih baik, sertifikasi halal, serta perizinan usaha,” ujar Tarmizi.
Ia menambahkan, produksi sagu basah juga masih diarahkan untuk konsumsi lokal. Dari sisi ketersediaan bahan baku, stok batang sagu di Desa Kelanga dinilai aman hingga tiga tahun ke depan. Satu batang sagu yang telah dikupas dan dipotong saat ini dihargai sekitar Rp120 ribu.
Dengan dukungan mesin pengolahan, pemerintah desa dan BUMDes menargetkan pengembangan produksi ke arah tepung sagu sebagai produk unggulan bernilai ekonomi lebih tinggi. Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Peresmian pabrik mini pengolahan sagu ditandai dengan pemotongan pita dan pengoperasian mesin secara simbolis oleh Bupati Natuna. Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah kepala organisasi perangkat daerah, camat, pemerintah desa, pengurus BUMDes, serta masyarakat setempat.
Pemerintah Kabupaten Natuna berharap pabrik mini pengolahan sagu Desa Kelanga dapat menjadi model pengembangan ekonomi desa berbasis kearifan lokal, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan mendorong kesejahteraan masyarakat Natuna secara berkelanjutan.







