Namun, ada kejanggalan dalam data administratif. Tercatat rekomendasi distribusi sebenarnya mencapai 271 ribu liter, namun realisasi di lapangan jauh dari harapan.
“Ada kios yang mengajukan banyak, tapi tidak diambil semua. Contohnya ada yang rekomendasi 10 ribu liter, tapi realisasinya hanya sekitar 6 ribu liter,” jelas Eliati.
Kelangkaan yang terjadi secara mendadak ini memicu spekulasi liar di tengah masyarakat. Warga mulai mencurigai adanya praktik “permainan” atau penimbunan yang dilakukan oleh oknum pemilik kios untuk mencari keuntungan pribadi di tengah kesulitan publik.
Untuk mengantisipasi penumpukan stok di wilayah padat dan meminimalisir risiko, pihak kecamatan sebenarnya telah menerapkan skema pengambilan bertahap.
“Jika kuota 10 ribu liter, diambil tiga kali, sekitar 3 ribu liter per pengambilan agar tidak menumpuk dan lebih merata,” tambahnya.
Meski demikian, warga Dabo Singkep mendesak pemerintah dan aparat terkait untuk mengawasi distribusi secara lebih ketat. Masyarakat berharap pasokan segera normal agar roda ekonomi lokal, terutama sektor transportasi, tidak lumpuh total.













