Opini

Perhelatan Kenduri Seni Melayu Batam: Lebih dari Sekedar Pesta Rakyat

12
×

Perhelatan Kenduri Seni Melayu Batam: Lebih dari Sekedar Pesta Rakyat

Share this article

Oleh: Buralimar, Pemerhati seni budaya dan pariwisata

Buralimar
banner 468x60

Di sinilah peran ganda KSM bekerja: sebagai motor budaya sekaligus engine ekonomi. Masyarakat tidak hanya menonton, tetapi ikut menikmati pendapatan. Budaya dijaga, ekonomi rakyat digerakkan.

Sejak awal digelar, KSM begitu spektakuler dan dinanti. Provinsi-provinsi berwarisan Melayu berebut hadir, delegasi serumpun pun datang membawa kebesarannya masing-masing. Namun harus diakui, beberapa tahun terakhir gemanya sempat meredup. Nuansa, vibe, dan passion-nya memudar, bahkan perlahan hilang dari memori kolektif. Padahal, KSM diharapkan menjadi benteng budaya Melayu. Ia semestinya menjadi ruang revitalisasi warisan turun-temurun, tonggak marwah dan peradaban besar yang telah ada sejak dulu.

BACA JUGA:  Penguatan Kapasitas Guru: Kunci Transformasi Pendidikan yang Berkelanjutan

Batam dengan posisinya yang strategis layak menjadi emporium Melayu masa kini: tempat bertemunya dagang, budaya, dan gagasan, tanpa kehilangan nasionalisme di tengah pusaran global yang sangat dinamis.

Lebih dari itu, KSM adalah ruang tradisi dan legacy yang wajib dipertahankan agar identitas Melayu tetap hidup di tanah sendiri. Ia harus menjamin regenerasi. Kita tak bisa menutup mata bahwa seniman Melayu hari ini makin sepuh dan jumlahnya terbatas. Jika KSM tak dijadikan gelanggang untuk menumbuhkan tunas baru, maka zapin, ghazal, mak yong, dan gurindam dua belas hanya akan tinggal nama. Seperti diingatkan budayawan Melayu Tenas Effendy, “Adat dipakai baru, kain dipakai usang. Kalau tak dihidupkan, budaya akan lapuk ditelan zaman.”