Maka regenerasi bukan pilihan, melainkan keharusan.
Di balik tabuhan kompang yang bertalu-talu, lenggok zapin yang gemulai, harmonisasi ghazal yang mendayu, lantunan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji yang legend dan berisi petuah tingghi, hingga unjuk karakter di pentas teater seni pertunjukan, harus ada perubahan signifikan agar KSM terus naik kelas.
Kualitas kurasi, tata panggung, narasi pertunjukan, hingga kemasan promosi tak boleh berhenti di kata “cukup”. KSM layak “dijual” ke pasar yang lebih luas tanpa kehilangan jiwa dan roh Melayunya. Ia harus mampu menggelitik hati wisatawan mancanegara, terutama dari Singapura dan Malaysia yang hanya dipisahkan selat dan waktu tempuh relatif singkat,
Apalah arti sebuah event jika yang menonton “kita-kita” saja? Tantangannya adalah bagaimana KSM membangkitkan pariwisata berbasis budaya dan kreativitas, supaya benar-benar “tak lapuk di hujan, tak lekang di panas”.
Pada akhirnya, KSM adalah cermin. Ia menampakkan wajah Melayu yang bermarwah, beradab, dan beradat. Ia juga menuntut kita menjawab pertanyaan besar: sanggupkah kita menjaga pusaka ini tetap bermaya?
Maka selamat atas perhelatan Kenduri Seni Melayu 2026. Semoga vibe, passion, dan nuansanya kembali berona, lebih baik dan lebih berkualitas. Mari kita rawat KSM bersama, agar kelak anak cucu bisa memetik ranggi peradaban yang kita semai hari ini. Takkan Melayu hilang di bumi, selama kita mau menjaganya.








