Pertemuan strategis ini dihadiri oleh para pakar lintas negara, di antaranya Dr. Andie Ang (Primatologis Mandai Nature Singapore), Ng Bee Choo (peneliti flora Singapura), Emilia Ayu Dewi K. (Founder Bilaku/Direktur Politeknik Bintan Cakrawala), serta Ahdiani dari Yayasan Mantau Kekah Natuna.
“Menjaga kelestarian Kekah Natuna bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga identitas dan kekayaan hayati daerah yang menjadi kebanggaan bersama,” tegas Bupati Natuna dalam pertemuan tersebut.
Sebagai langkah konkret jangka pendek demi menahan laju kepunahan, Pemerintah Kabupaten Natuna telah menetapkan kawasan konservasi khusus seluas 39 hektare di wilayah Desa Mekarjaya.
Kawasan ini diharapkan menjadi benteng pertahanan terakhir bagi Kekah Natuna dari ancaman fragmentasi lahan. Dalam pengawasannya, Pemkab Natuna bersinergi langsung dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) serta komunitas lokal.
Sebelumnya, sebagai upaya membangun benteng pertahanan dari sisi sosial, para edukator dan masyarakat setempat juga telah menggelar kampanye “Kekah Day” pada 18 Mei 2026 di Desa Mekarjaya untuk mengedukasi warga agar tidak memburu atau merusak ruang hidup primata langur ini.
Penyelamatan Kekah Natuna bukan hanya tentang mempertahankan satu spesies dari kepunahan, melainkan juga menjadi penentu ambisi besar Kabupaten Natuna di kancah internasional.













