Momentum berprestasinya tim nasional Singapura yang ditandai gelar juara Piala AFF dan Filipina jadi tim berperingkat satu ASEAN di FIFA, hilang karena salah penyikapan dari federasi.
“Harusnya dibarengi peningkatan kompetisi domestik, karena Timnas itu tidak mungkin hanya mengandalkan pemain-pemain naturalisasi. Event di Asia Tenggara itu banyak,” katanya.
“Pemain naturalisasi juga terbatas untuk membela Timnas. Paling hanya di Kualifikasi Piala Dunia atau Piala Asia. Kalau cuma Piala AFF atau SEA Games kan tidak dilepas klub,” ujar Kusnaeni.
Karena itu lelaki yang biasa disapa Bung Kus ini meminta semua pihak sadar akan bahaya yang mengintai jika hanya mengandalkan program naturalisasi untuk Timnas Indonesia.
Pilihan PSSI menaturalisasi pemain-pemain berdarah Indonesia dengan usia muda dinilai sudah benar. Hanya saja persoalan dalam negeri jangan sampai terabaikan.
Menurut Kusnaeni, kompetisi sepak bola Indonesia lebih punya potensi menjadi salah satu yang terbaik di Asia dibanding negara ASEAN lainnya. Untuk ini PSSI harus bekerja keras.
Oleh sebab itu terus meningkatkan kualitas kompetisi menjadi sebuah kewajiban. Pada saat yang sama PSSI juga diimbau terus melakukan pembinaan pemain usia muda.













