Akibat kerusakan berat ini, aktivitas penumpang resmi telah dialihkan sepenuhnya ke Pelabuhan Jagoh. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau bahkan telah mengucurkan anggaran sebesar Rp2,73 miliar untuk membangun dermaga apung baru di Jagoh demi memastikan layanan feri dan roro tetap berjalan.
Namun, nasib Pelabuhan Dabo Lama seolah digantung. Dinas Perhubungan Provinsi Kepri dilaporkan mengalami kendala anggaran untuk melakukan perbaikan total terhadap kerusakan struktural tersebut.
Meski secara fisik dinyatakan tidak layak, Pelabuhan Dabo Lama menolak untuk mati sepenuhnya. Secara ironis, pelabuhan rakyat ini masih menjadi titik krusial bagi distribusi barang kebutuhan pokok di Kabupaten Lingga. Kapal-kapal kayu dari Jambi dan daerah sekitar masih bersandar di sini untuk membongkar muat sembako.
“Pelabuhan ini sejatinya memegang peran vital dalam denyut ekonomi masyarakat. Jika ini benar-benar ditinggalkan tanpa perawatan, distribusi pangan kita bisa terganggu,” ujar salah satu warga lokal yang ditemui di lokasi.
Ketidakpastian masa depan pelabuhan ini dipertegas oleh pernyataan Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Lingga, Hendry Efrizal. Ia mengakui bahwa pihaknya tidak memiliki kapasitas, baik secara operasional maupun finansial, untuk mengambil alih pengelolaan dari provinsi.













