Denny juga menekankan bahwa air merupakan kebutuhan mendasar masyarakat sekaligus fondasi utama penopang aktivitas ekonomi Kota Batam. Oleh karena itu, berbagai upaya pengamanan suplai air baku akan terus digenjot.
Pelaksanaan OMC kali ini melibatkan sinergi kuat dari berbagai instansi strategis, mulai dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), AirNav Indonesia, PT Bandara Internasional Batam (BIB), hingga jajaran internal BP Batam seperti BU SPAM dan Pengelolaan Limbah serta Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kawasan Bandar Udara. Kolaborasi ini krusial untuk memastikan aspek meteorologi, keselamatan penerbangan, hingga distribusi air berjalan lancar.
Dari sisi teknis, operasi ini direncanakan menggunakan satu unit pesawat jenis Cessna. Pesawat tersebut akan beroperasi pada ketinggian 8.000 hingga 11.000 kaki, dengan waktu penerbangan yang disesuaikan secara dinamis mengikuti kondisi atmosfer serta keberadaan awan potensial.
Direktur BU SPAM dan Pengelolaan Limbah BP Batam, Idul Priady, menambahkan bahwa berdasarkan koordinasi bersama BMKG Batam, wilayah Batam terpantau memiliki potensi hujan hingga Desember 2026. Pelaksanaan OMC ini diharapkan mampu mengoptimalkan potensi tersebut agar intensitas hujan terkonsentrasi di wilayah tangkapan air waduk.













