Kata-kata itu menjadi pemantik peledak amarah Nasrun. Tanpa ucapan balasan yang panjang, ia bangkit dari kursi, melangkah dingin menuju pintu depan, dan mengambil kayu 55 cm yang sudah disiapkannya di pot bunga.
“Jangan hina saya lagi karena saya ini suamimu, nanti kupukul mulutmu dengan kayu ini!” gertak Nasrun.
“Pukullah!” tantang Hersalena.
Satu hantaman keras melayang tepat ke belakang telinga korban. Hersalena ambruk. Tanpa belas kasihan, Nasrun mengeksekusi istrinya dengan pukulan beruntun ke kepala belakang hingga darah segar membanjiri lantai.
Setelah memeriksa urat nadi tangan kanan korban dan memastikan tak ada lagi denyut kehidupan, Nasrun bertindak lebih jauh.
Mengetahui tubuh korban yang lunglai terlalu berat untuk diangkat utuh ke atas motor Supra X miliknya, Nasrun mengambil jalan paling mengerikan. Ia menuju dapur, meraih bilah parang dan sebuah talenan kayu.
Di lantai rumah yang berdarah, ia membakar semua rasa kemanusiaannya. Paha kiri dan kanan korban diganjal talenan, lalu disayat dan dipotong hingga kedua kaki Hersalena terpisah dari tubuhnya.
Nasrun membagi jasad istrinya menjadi dua paket:
Tubuh Utama: Dibalut kain sarung cokelat dan karung goni, diseret ke dalam gudang rumah lalu ditimbun lembaran triplek putih.










