AKSI demonstrasi bertajuk ‘Indonesia Gelap’ yang berlangsung di berbagai daerah menjadi bukti bahwa masyarakat tengah merespons kebijakan-kebijakan baru yang diterapkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Gelombang protes yang melibatkan aliansi mahasiswa, masyarakat sipil, hingga serikat buruh menyoroti berbagai isu, mulai dari pendidikan gratis hingga evaluasi program makan bergizi gratis (MBG). Namun, di balik hiruk-pikuk unjuk rasa, ada pertanyaan besar yang muncul: apakah ini bentuk ketidakpuasan yang nyata atau hanya efek dari kekagetan terhadap perubahan?
Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani, menilai bahwa aksi demonstrasi ini merupakan reaksi yang berlebihan. Menurutnya, banyak pihak yang belum terbiasa dengan langkah-langkah efisiensi anggaran yang diambil oleh pemerintah.
“Yang dilakukan oleh Pak Prabowo sekarang ini baru tahap awal, sehingga menimbulkan kekagetan, dan seringkali reaksinya berlebihan dan kontraproduktif,” ujar Muzani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/2/2025).
Salah satu kebijakan yang mengundang reaksi adalah penghematan anggaran sebesar Rp306,69 triliun dari kementerian/lembaga dan dana transfer daerah. Kebijakan ini bukan hanya mengejutkan masyarakat, tetapi juga internal birokrasi pemerintahan sendiri.










