“Reaksi itu terjadi bukan hanya di masyarakat tetapi juga dalam internal birokrasi dan pemerintahan, terutama terkait penghematan dan pengetatan anggaran,” tambah Muzani.
Di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Lampung, Surabaya, hingga Bali, mahasiswa dan masyarakat sipil turun ke jalan. Mereka menuntut pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan gratis, mengesahkan RUU Masyarakat Adat, serta mengevaluasi program-program sosial yang dinilai belum optimal.
Namun, di sisi lain, pemerintah menilai bahwa reaksi ini lahir dari kesalahpahaman terhadap visi jangka panjang yang ingin dicapai.
“Pemerintah tetap bertekad dengan rencana awal yang telah disampaikan Pak Prabowo. Rencana itu adalah strategi jangka panjang bagi Indonesia,” kata Muzani.
Dalam sejarah politik Indonesia, kebijakan baru kerap direspons dengan skeptisisme. Namun, apakah ini pertanda ketidakpuasan nyata atau hanya transisi menuju sesuatu yang lebih besar? Seperti halnya reformasi di masa lalu, setiap perubahan besar pasti memerlukan waktu untuk dipahami dan diterima.
Bagi sebagian orang, aksi demonstrasi ini adalah bentuk kepedulian terhadap arah kebijakan negara. Namun, bagi pemerintah, ini adalah tantangan untuk lebih transparan dalam komunikasi kebijakan agar masyarakat dapat memahami maksud dan tujuan dari setiap langkah yang diambil.










