“Mereka datang dari Tiban, Bengkong, bahkan Telaga Punggur. Semuanya cerita sama. Ada bisikan… suruhan untuk loncat,” kata Candra.
Menurutnya, Jembatan I Barelang memancarkan energi negatif. Ia bahkan pernah merukyah lokasi itu tahun lalu dan berencana mengulanginya, kali ini membawa para santri penghafal Al-Qur’an.
“Ada frekuensi jahat yang mengganggu manusia—iblis, jin, atau ad dajjal. Itu nyata,” tegasnya.
Salah satu pasiennya, seorang perempuan dari Batam Center, pernah diselamatkan setelah mencoba bunuh diri di jembatan ini. “Ia mengaku ada bisikan di malam hari yang sangat kuat, seolah tak bisa ditolak,” kenang Candra.
Jembatan Barelang bukan sekadar infrastruktur. Ia menyimpan catatan luka. Dari 2020 hingga kini, puluhan nyawa terjun dari sini. Tak semua ditemukan, tak semua kisahnya diketahui. Ada yang depresi, ada yang diam-diam bergumul dengan tekanan hidup yang tak mampu ditampung logika atau logistik.
“Fenomena ini bisa dikatakan gejala sosial dan spiritual sekaligus. Jembatan itu jadi simbol. Mereka yang datang ke sana sudah dalam kondisi sangat lemah. Suasana sepi, laut luas, angin, seolah memberi pelukan terakhir,” ucap Chandra.
Namun ketika ditanya tentang ‘bisikan gaib’, Chandra tak langsung menolak. “Manusia dalam krisis jiwa bisa sangat sugestif. Kalau dalam masyarakat sudah terbentuk narasi jembatan itu ‘angker’, maka makin tinggi potensi sugesti itu muncul dalam bentuk nyata. Apalagi jika ditambah kondisi spiritual yang minim.”












