Di balik kontroversi ini, nama Flyover Laksamana Ladi seolah menjadi simbol betapa pentingnya kajian historis yang matang dalam setiap proyek pembangunan besar.
Nama-nama tempat bukan hanya sekedar label, melainkan identitas budaya yang harus dihormati dan dilestarikan.
Tentu saja, pertanyaan besar yang masih menggantung adalah: apakah Laksamana Ladi benar-benar ada, ataukah ini hanya cerita yang baru saja dipopulerkan tanpa dasar yang kuat?
Sementara itu, di tengah keresahan masyarakat dan desakan dari LAM, BP Batam pun dituntut untuk memberikan penjelasan yang lebih mendalam. Tidak hanya soal sejarah, tetapi juga soal bagaimana penamaan ini bisa mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah Batam.
Polemik ini masih jauh dari selesai, dan masyarakat Batam akan terus menantikan langkah konkret dari pihak berwenang dalam menyelesaikan isu ini. Apakah Flyover Laksamana Ladi akan tetap bertahan dengan namanya, ataukah akan ada perubahan besar yang menghormati sejarah yang lebih sahih? Waktu yang akan menjawab.













