harris
BatamPerspektifZona Headline

Fenomena “Kalah di Rumah Sendiri”: Mengapa Anak Kelahiran Batam Susah Dapat Kerja di Batam?

139
×

Fenomena “Kalah di Rumah Sendiri”: Mengapa Anak Kelahiran Batam Susah Dapat Kerja di Batam?

Share this article
Foto: ilustrasi. (ai)
banner 468x60

Dominasi Rekrutmen “Bawaan” (Orang Dalam)

Bukan rahasia lagi jika banyak posisi di perusahaan besar diisi melalui jalur referensi internal. Mengingat populasi Batam didominasi oleh pendatang yang sudah mapan di posisi manajemen atau HRD, mereka cenderung menarik kerabat atau rekan dari daerah asal mereka. Hal ini menciptakan ekosistem tertutup yang sulit ditembus oleh anak tempatan tanpa jaringan.

BACA JUGA:  Nasib 1.025 Buruh PT Ghim Li Menggantung, Wali Kota Batam Investigasi Dugaan Pabrik Kabur ke Bekasi

Preferensi HRD terhadap Pendatang Baru

Beberapa praktisi HRD secara subjektif menilai pelamar asal luar daerah memiliki motivasi lebih tinggi karena mereka memiliki beban “biaya hidup” dan “harus sukses” di perantauan. Sebaliknya, ada prasangka bahwa anak lokal lebih mudah resign atau kurang disiplin karena merasa memiliki tempat tinggal tetap dan dukungan keluarga di dekatnya.

BACA JUGA:  Warga Pantai Melayu Mengaku Terintimidasi Tim Terpadu Saat Libur Maulid Nabi Terkait Proyek Sekolah Merah Putih

“Kami lahir di sini, besar di sini, tapi saat melamar malah ditanya pengalaman kerja. Kalau tidak diberi kesempatan pertama, bagaimana kami bisa punya pengalaman?” begitulah keluhan yang sering muncul di grup pencari kerja Batam.

Untuk memutus rantai ini, diperlukan intervensi nyata:

Perda Tenaga Kerja: Penegakan aturan kuota bagi tenaga kerja lokal secara lebih ketat.

BACA JUGA:  Sidak Proyek Drainase Batam, Wawako Li Claudia Sentil Galian "Tanpa Data" dan Minta BP Batam Tak Jalan Sendiri

Revitalisasi BLK: Balai Latihan Kerja harus menjadi jembatan utama yang memberikan sertifikasi gratis bagi anak tempatan.