Fifi juga mengenang betapa ironisnya takdir Diana. Seorang yatim piatu yang jauh dari keluarga, harus diperlakukan setega itu oleh orang yang seharusnya melindunginya. “Setega ini kau diperlakukan pelaku. Aku tak habis pikir,” tambahnya sembari mendoakan sang sahabat agar mendapat tempat terbaik di surga.
Kisah Diana adalah potret kontras tentang sebuah transformasi. Di lengannya, terukir tato bertuliskan “Diyana”—sebuah identitas dari masa lalu yang berani. Namun, di balik rajahan itu, tersimpan hati yang lembut. Sebelum maut menjemput, Diana dikabarkan mulai menutup diri dengan hijab, sebuah sinyal kuat bahwa ia sedang merajut lembaran hidup yang lebih bersahaja.
Ironisnya, tato itulah yang menjadi petunjuk terakhir bagi polisi dan warga untuk mengenalinya ketika alam tak lagi sanggup menyimpan rahasia terkuburnya jasad Diana. Sebuah pergelangan tangan yang mencuat dari tanah menjadi saksi bisu akhir perjalanan sang perantau.
Hal yang paling menyayat hati dalam tragedi ini adalah nasib anak perempuan Diana yang masih balita. Hanya sehari sebelum jasadnya ditemukan, Diana dikabarkan sempat mengunggah momen kebersamaan dengan anaknya di media sosial—seolah menjadi salam perpisahan tak terucap dari seorang ibu.










