“Pelatihan pembuatan batik ini berlangsung selama tiga hari, dimulai dari tanggal 16 hingga 18 Mei 2024, di Rumah Pantai Lanud Raden Sadjad (RSA) Natuna, sementara pembuatan olahan kerupuk ikan dilakukan di Desa Semedang,” terangnya.
Sebanyak 30 peserta hadir dalam pelatihan ini, terdiri dari 20 orang dari Kelompok Tucano Jaya Lanud RSA, 5 orang dari Kelompok Batik Alami Desa Pengadah, dan 5 orang perwakilan dari warga Kelurahan Batu Hitam.
Pelatihan ini juga menyoroti peran BRGM tidak hanya dalam kegiatan penanaman dan rehabilitasi mangrove, tetapi juga dalam pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan usaha, sebagai langkah untuk melestarikan mangrove secara mandiri.
Dalam kegiatan ini BRGM menghadirkan Narasumber dari Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (P2MKP) Griya Karya Tiara Kusuma (GKTK), Lulut Sri Yuliani.
Lulut menyampaikan bahwa batik mangrove diciptakan olehnya sendiri di Surabaya. Batik mangrove ini telah dikenalkan secara internasional untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan mangrove.
Di Natuna, motif batik akan menggambarkan ikan pari Natuna, mencerminkan kekayaan alam lokal.
“Batik mangrove ini menggunakan pewarna alam dari buah mangrove atau tanaman lain yang ada di ekosistem mangrove, dengan motif khas Kabupaten Natuna. Kegiatan pelatihannya mencakup persiapan kain, pembuatan pewarna alam, penggambaran desain batik, pencantingan, dan pewarnaan,” terangnya.













