NatunaZona Headline

Bupati Natuna Lompat di Tengah Laut Demi Pulau Panjang, Fakta Miris dari Wilayah Terdepan yang Lama Terabaikan

232
×

Bupati Natuna Lompat di Tengah Laut Demi Pulau Panjang, Fakta Miris dari Wilayah Terdepan yang Lama Terabaikan

Share this article
Rombongan Bupati Natuna Cen Sui Lan berpindah ke pompong nelayan di tengah gelombang tinggi, Sabtu, (29/112025). (Foto: Aulia Rahman)
banner 468x60

Dalam hitungan menit, tali pengaman direntang, jaket pelampung dipasang, dan satu per satu rombongan melompat ke pompong nelayan.

Cen melompat diikuti Wakil Bupati Jarmin Sidik, tiga dokter spesialis, tenaga medis, dan puluhan anggota tim. Ombak menghantam lambung perahu berkali-kali, namun langkah mereka tak surut.

Pulau Panjang punya fasilitas pendidikan dari SD hingga SMA, bahkan dilengkapi Smart TV bantuan pemerintah. Tetapi warga Desa Kerdau harus menyeberangi laut lebih dari satu kilometer setiap hari hanya untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

BACA JUGA:  Grafik Merah Karhutla Natuna: Kasus Terus Naik, Bupati Cen Sui Lan Siaga Satu

Akses pendidikan di pulau ini tak pernah sekadar soal guru dan fasilitas, tetapi soal melawan laut.

Mengamati kondisi lapangan, Cen menegaskan satu prioritas: “Di sini harus dibangun puskesmas. Pelayanan kesehatan mesti jadi prioritas.”

Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdepan, puskesmas berarti nyawa yang tak lagi tergantung pada cuaca.

Isolasi dan biaya logistik tinggi membuat harga barang kebutuhan pokok di pulau perbatasan merentang jauh dari standar.

BACA JUGA:  Ekonomi Natuna Minus di 2025, Cen Sui Lan Soroti Tantangan Pembangunan dalam LKPJ

Komoditas lainnya seperti gula, minyak goreng, telur, tepung—lebih mudah datang dari kota-kota Malaysia ketimbang dari Ranai.

Karena itu, saat pasar murah dibuka rombongan bupati, warga berkerumun bukan karena euforia, tapi karena refleks bertahan hidup. Beras 5 kilogram seharga Rp 55 ribu langsung habis dalam menit pertama.