Dalam hitungan menit, tali pengaman direntang, jaket pelampung dipasang, dan satu per satu rombongan melompat ke pompong nelayan.
Cen melompat diikuti Wakil Bupati Jarmin Sidik, tiga dokter spesialis, tenaga medis, dan puluhan anggota tim. Ombak menghantam lambung perahu berkali-kali, namun langkah mereka tak surut.
Pulau Panjang punya fasilitas pendidikan dari SD hingga SMA, bahkan dilengkapi Smart TV bantuan pemerintah. Tetapi warga Desa Kerdau harus menyeberangi laut lebih dari satu kilometer setiap hari hanya untuk menyekolahkan anak-anak mereka.
Akses pendidikan di pulau ini tak pernah sekadar soal guru dan fasilitas, tetapi soal melawan laut.
Mengamati kondisi lapangan, Cen menegaskan satu prioritas: “Di sini harus dibangun puskesmas. Pelayanan kesehatan mesti jadi prioritas.”
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdepan, puskesmas berarti nyawa yang tak lagi tergantung pada cuaca.
Isolasi dan biaya logistik tinggi membuat harga barang kebutuhan pokok di pulau perbatasan merentang jauh dari standar.
Komoditas lainnya seperti gula, minyak goreng, telur, tepung—lebih mudah datang dari kota-kota Malaysia ketimbang dari Ranai.
Karena itu, saat pasar murah dibuka rombongan bupati, warga berkerumun bukan karena euforia, tapi karena refleks bertahan hidup. Beras 5 kilogram seharga Rp 55 ribu langsung habis dalam menit pertama.













