Namun, bagi sebagian warga, peninjauan lapangan bukan lagi hal baru. Kunjungan demi kunjungan kerap terjadi setiap kali krisis air mencuat. Yang terasa berbeda kali ini bukan pada aliran air di keran rumah, melainkan pada aliran dokumentasi yang beredar ke publik.
Dokumentasi resmi yang dipublikasikan lebih banyak menampilkan rangkaian foto pejabat saat berada di lokasi peninjauan, mulai dari berdiri di tepi waduk hingga berdiskusi di lapangan, sementara kondisi waduk itu sendiri justru minim dijelaskan secara teknis. Informasi soal volume air aktual, tingkat sedimentasi, kapasitas aman waduk, atau seberapa kritis kondisi pasokan air tidak banyak muncul ke permukaan.
Di saat yang sama, realitas di permukiman warga masih jauh dari kata normal. Di Batu Ampar, Tanjung Riau, Sungai Harapan hingga Sagulung, air masih mati berjam-jam bahkan berhari-hari. Saat mengalir, kualitas air kerap dikeluhkan keruh dan tidak layak digunakan. Warga terpaksa memasang tandon air, mengatur jadwal mandi, hingga membeli air galon untuk kebutuhan memasak.
Keluhan warga pun membanjiri media sosial dengan nada sarkas. Mulai dari “bayar air tapi yang keluar angin”, hingga sindiran bahwa di Kota Investasi ini, yang mengalir deras justru foto-foto kunjungan, bukan air bersih. Bagi warga, foto pejabat di waduk tak banyak membantu saat bak mandi tetap kosong.













