Di Indonesia, telah dilakukan uji coba acak di Yogyakarta. Gates menuliskan kasus DBD berkurang 77 persen karena penyebaran nyamuk tersebut.
“Uji coba acak yang terkontrol di Yogyakarta Indonesia mendapatkan fakta bahwa nyamuk pembawa Wolbachia mengurangi kasus DBD di kota itu sebanyak 77 persen dan pasien rawat inap DBD sebanyak 86 persen,” tulis Gates lagi.
Perubahan iklim yang terjadi juga menaikkan urgensi pekerjaan program tersebut. Penyebabnya adalah nyamuk aedes aegypti lebih banyak ada di wilayah layak huni karena suhu global yang meningkat.
“Permintaan nyamuk penyelamat ini terus bertambah dan itu berarti Program Nyamuk Dunia perlu menghasilkan ratusan juta nyamuk Wolbachia,” kata Gates.







