BatamKriminal

Bukan Sabu Siap Pakai, Indonesia Menjadi Target Industri Kitchen Lab Skala Raksasa

18
×

Bukan Sabu Siap Pakai, Indonesia Menjadi Target Industri Kitchen Lab Skala Raksasa

Share this article
Drum dan tangki air berisi 2.600 liter sabu cair hasil penyitaan tim gabungan BNN di atas kapal MV Ocean Porter.
Drum dan tangki air berisi 2.600 liter sabu cair hasil penyitaan tim gabungan BNN di atas kapal MV Ocean Porter.
banner 468x60

Gudangberita.co.id, Batam – Pengungkapan kasus penyelundupan narkotika oleh tim gabungan BNN RI, Bea Cukai, dan Polda Kepri di perairan Karimun pada Kamis (20/8/2026) menyibak ancaman baru yang jauh lebih mengerikan bagi Indonesia.

Penyitaan barang bukti dari kapal MV Ocean Porter tersebut bukan berupa kristal bening siap edar, melainkan 2.600 liter methamphetamine cair yang disimpan dalam 8 drum dan 1 water tank.

BACA JUGA:  Modus Ajak Makan Malam, Pemuda di Batam Cabuli Gadis 16 Tahun di Kos Dapur 12

Temuan ini mengonfirmasi perubahan taktik radikal dari kartel narkotika internasional. Indonesia tidak lagi sekadar diposisikan sebagai pasar komoditas akhir, melainkan telah menjadi target pembukaan fasilitas pengolahan (super kitchen lab) skala industri.

Sabu cair merupakan bentuk “mentah” atau bahan prekursor terlarang berorientasi produksi massal. Cairan ini tidak bisa langsung dikonsumsi oleh pengguna di jalanan.

BACA JUGA:  Kasus Pembunuhan Bripda NS di Rusun Polda Kepri: Kuasa Hukum Terdakwa Ajukan Eksepsi, Sebut Kliennya Korban Tekanan Senior

Agar dapat diperjualbelikan, seluruh cairan tersebut harus melalui proses kimiawi rumit (cooking) untuk dikristalkan kembali menjadi sabu padat atau dicetak menjadi tablet ekstasi.

Berdasarkan kalkulasi BNN RI, 2.600 liter sabu cair ini setara dengan 2,6 ton sabu padat dengan nilai ekonomis mencapai Rp8,4 triliun dan berpotensi merusak lebih dari 14,1 juta jiwa.

BACA JUGA:  Polda Kepri Gagalkan Penyelundupan CPMI Ilegal ke Malaysia di Pelabuhan Batam Centre, 1 Tersangka Ditangkap

Pengiriman bahan baku dalam volume raksasa ini secara logis menunjukkan satu hal: di dalam negeri, infrastruktur laboratorium gelap beserta tim “koki” (chemists) diduga kuat sudah siap menerima dan mengolahnya.